KELOMPOKBERAT.COM - Saat berada di sekolah dasar, kalian diwajibkan untuk unggul dalam berbagai mata pelajaran yang kerap dianggap membosankan, seperti Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, dan Bahasa Inggris. Padahal, belum tentu semua pelajaran tersebut sesuai dengan minat kalian. Mengapa pelajaran yang bersifat kreatif—seperti seni, musik, dan olahraga—sering kali kurang mendapat porsi yang sama? Kita menyadari bahwa setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan keluarga dan pergaulan.
Kondisi tersebut pada akhirnya membuat sumber daya manusia kita kurang memiliki akses dan referensi yang memadai terhadap pembelajaran yang bersifat kreatif. Sebagian besar akses dan referensi tersebut justru diperoleh ketika kita mencarinya di luar jalur pendidikan formal, seperti melalui komunitas, himpunan, atau paguyuban. Padahal, pemerintah seharusnya dapat lebih menonjolkan kurikulum yang berfokus pada pengembangan minat dan bakat, yang idealnya sudah mulai diterapkan sejak sekolah dasar.
Lalu, bagaimana cara menggali dan mengembangkan potensi kreatif tersebut? Siapa figur yang mampu memberikan pengaruh kuat dalam membentuk pola pikir kreatif generasi muda? Dalam konteks ini, saya menyoroti Muklay sebagai subjek pembahasan. Muklay hadir sebagai sosok yang mampu menginspirasi dan memengaruhi cara pandang anak muda terhadap kreativitas, baik melalui karya visual, narasi, maupun pesan-pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sumber : Instagram/@jabrikandhisegoSIAPA MUKLAY?
Bernama asli Muchlis Fachri, Muklay merupakan seniman muda berbakat yang telah berkarya selama lebih dari satu dekade di bidang seni visual. Tumbuh di tengah pengaruh budaya populer, karya-karya Muklay banyak terinspirasi oleh komik, animasi, dan film, khususnya yang berasal dari Jepang dan Amerika Serikat.

Sumber : Instagram/@muklay
Hal tersebut tercermin jelas dalam gaya visual yang ia kembangkan, di mana karakter-karakter kartun yang ekspresif berpadu dengan elemen warna cerah yang mencolok. Setiap karya yang dihasilkan menghadirkan suasana ceria, namun tetap mengandung makna mendalam mengenai dinamika kehidupan modern yang terus mengalami perubahan.
Dalam perjalanan kariernya, Muklay juga telah berkolaborasi dengan berbagai merek besar, baik lokal maupun global, seperti Coach, Uniqlo, dan New Balance.

Sumber : Instagram/@jabrikandhisego
Tak sedikit anak muda yang akhirnya terinspirasi oleh jejak perjalanan Muklay, yang kini aktif menggelar pameran di berbagai tempat. Selain terdorong untuk memvisualisasikan gagasan dan imajinasi yang ada di benak mereka, para anak muda tersebut juga melihat Muklay sebagai representasi keberanian dalam berkarya.

Sumber : Instagram/@cansgallery
Gaya komunikasi Muklay sendiri tergolong berani, dengan penggunaan satire dan ironi sebagai medium untuk mengkritisi kondisi sosial dan realitas negara yang kian hari semakin kacau.
Dalam Visual Communication muklay sendiri, pesan disandikan (encoding) lewat visual dan Audiens menafsirkan (decoding) sesuai pengalaman personal. Hal ini sendiri sejalan dengan model komunikasi Stuart Hall (encoding-decoding).

Sumber : Instagram/@muklay
“Tentu pesan ini ditujukan untuk generasi muda. Namun, tidak menutup kemungkinan visual art-nya juga ditujukan sebagai sindiran terhadap pemerintah.”Terbukti, Muklay berhasil menggelar pameran tingkat nasional bahkan internasional dalam tiga tahun terakhir. Pameran bertajuk Distractions yang berlangsung pada awal 2023 merupakan pameran tunggal keempatnya dan diselenggarakan di YOD Tokyo Gallery. Setelah itu, ia kembali mengadakan pameran Muklay’s Bizarre Adventure yang berlangsung pada 28 September–28 Oktober 2024. Terakhir, Muklay dipercaya menjadi juri dalam Finna Art of the Year 2025 pada bulan Mei.

Sumber : Instagram/@cansgallery

Sumber : tokyoartbeat.com/muklay
“Saya melihat banyak anak muda merasa relatable dengan realitas yang terjadi saat ini. Bagi generasi muda, karya-karya Muklay hadir sebagai cerminan kehidupan sehari-hari, seperti overthinking, tekanan sosial, ekspektasi hidup, dan pencarian jati diri. Karya-karya tersebut bersifat reflektif—bukan ceramah yang menggurui atau menghakimi—melainkan memberi ruang bagi audiens untuk berpikir.
Di era sekarang, terdapat banyak medium yang dapat digunakan untuk berekspresi. Namun, pada kesempatan ini saya memilih komunikasi visual sebagai sarana untuk mengekspresikan suara emosional generasi muda melalui simbol-simbol visual yang sederhana, tetapi bermakna.”

Sumber : Youtube/Forbes Indonesia
Tidak berlebihan rasanya, dengan segala sumbangsihnya di dunia seni Indonesia, Muklay dinobatkan dalam daftar 30 Under 30 Forbes Indonesia pada tahun 2020, sebagai salah satu tokoh muda berbakat yang inspiratif bagi generasi muda.”
---------------------
Author : Nur Laila Audyna
Photo Cover : Instagram/@muklay

0Komentar